Apa itu e – Sourching ? - eProcurement Indonesia
preloader

Apa itu e – Sourching ?

Apa itu e – Sourching ?

Sourcing adalah kegiatan yang dilakukan untuk menemukan sumber barang dan jasa yang dibutuhkan perusahaan. Umumnya Sourcing merupakan sub-bagian dalam suatu proses pengadaan. Sedangkan Procurement berkaitan dengan kegiatan logistik untuk memperoleh barang/jasa, dengan fokus untuk menggunakan pemasok terbaik serta harga pasar yang sesuai untuk barang-barang tersebut.

Kegiatan pengadaan secara tradisional (purchasing) biasanya dilakukan dengan cara menetapkan barang/jasa yang hendak dibeli, dilanjutkan dengan proses pencarian penyedia barang/jasa yang dapat mensuplai kebutuhan tersebut dengan harga terendah. Di era industri 4.0 ini, inovasi proses pengadaan dapat menciptakan nilai tambah. Procurement dalam hal ini secara aktif mencari ruang kolaborasi jangka panjang yang lebih efektif dan efisien dengan penyedia barang/jasa yang terbukti handal. Teknik ini sering dikenal dengan istilah strategic sourcing dengan tujuan utama untuk meningkatkan pola transaksi pembelian menjadi kegiatan yang lebih strategis.

Perbedaan utama dalam purchasing terletak pada upaya organisasi selaku pihak pembeli, untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan dalam jangka panjang melalui kemitraan dengan penyedia. Hal ini untuk mengoptimalkan kemampuan pembeli dan penjual agar kemitraan jangka panjang dapat menciptakan efisiensi dan nilai tambah bagi semua pihak.

7 Faktor yang Membedakan Kegiatan Sourcing dan Procurement:

  1. Kuantitas versus Kuantitas. Pengadaan tradisional hanya mencari diskon dari volume pengadaan yang besar. Sementara strategic sourcing berupaya meningkatkan kualitas barang/jasa dengan biaya yang seoptimal mungkin.
  2. Mencari Penawaran Terbaik. Prosedur dalam pengadaan tradisional hanya menetapkan apa yang ingin dibeli dan mencari penyedia terbaik, sementara strategic sourcing secara aktif mencari penawaran terbaik dari aspek biaya dan kualitas.
  3. Jangka waktu biaya kepemilikan. Dari aspek biaya, strategic sourcing fokus tidak hanya pada biaya jangka pendek tetapi juga biaya jangka panjang (total cost of ownership).
  4. Jangka waktu Kemitraan dengan Penyedia. Pengadaan tradisional hanya mengandalkan tertib administrasi dan keterampilan negosiasi harga, sementara strategic sourcing memerlukan keterampilan dalam membangun kolaborasi untuk mendapatkan kemitraan yang bersifat jangka panjang.
  5. Alternatif Pilihan Penyedia. Strategic sourcing biasanya mencoba mencari alternatif penyedia baru secara global sementara pengadaan tradisional hanya mengandalkan penyedia yang sudah dikenal.
  6. Pencegahan vs Pengobatan. Pengadaan tradisional akan melakukan perbaikan jika ada kesalahan, sementara strategic sourcing akan secara aktif menghindari terjadinya kesalahan.
  7. Rules-driven vs Mission-driven. Pengadaan tradisional hanya fokus pada menjalankan prosedur dengan baik (doing the things right), sementara strategic sourcing akan selalu mencari cara yang lebih baik untuk hasil yang maksimal (doing the right things).

Untuk informasi selengkapnya mengenai pengadaan barang dan jasa silahkan kunjungi Website https://eprocurement-indonesia.com/ atau bisa hubungi Helpdesk di +62811-3484-007 / +6231-591-75838.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *