5 Tren Pengembangan Platform E-Procurement - eProcurement Indonesia
preloader

5 Tren Pengembangan Platform E-Procurement

5 Tren Pengembangan Platform E-Procurement

Sebuah revolusi dalam proses procurement atau pengadaan barang dan jasa berubah dalam lima tahun belakangan. Diantaranya ada electronic procurement atau e-procurement, yang menjadi sampai sekarang menjadi syarat bagi perusahaan yang ingin bisnis dengan pemerintahan di Amerika Serikat dan kini dikembangkan di Indonesia.

Baru-baru ini, Uni Eropa juga menetapkan batasan waktu untuk mendigitalisasi semua fase proses procurement di area Uni Eropa. Meski begitu, bagi para pemangku kepentingan yang sudah lama berkecimpung di dunia ini dan pendatang baru melihat tren teknologi ini cepat berkembang membentuk transaksi bisnis antara pemerintah dan swasta.

Organisasi dalam hal ini belajar untuk mengidentifikasi dan memenuhi syarat supplier, meminta penawaran, menangani permintaan, mengelola pesanan, dan memproses invoice elektronik, sehingga memberikan celah bagi pengembang fintech.

Secara khusus, e-procurement mewakili serangkai proses termasuk e-informing, e-tendering, negosiasi kontrak, e-auctioning, manajemen vendor, manajemen katalog, manajemen pembelian pesanan, tracking status pemesanan, pemberitahuan pengiriman, e-invoicing, dan e-payment. Beberapa proses tersebut menawarkan banyak ruang untuk inovasi dan pengembanan.

Berikut adalah beberapa tren pengembangan platform eProcurement yang didorong oleh kemajuan teknologi dalam industri yang sedang berkembang, diantaranya:

  • Layanan E-Procurement Berbasis Bisnis

Penelitian menunjukkan pasar e-procurement secara keseluruhan akan bertumbuh. Pertumbuhan ini akan didukung oleh perkembangan eksponensial dalam platform berbasis cloud dan Software as as Service (SaaS). Perpindahan dari on-site e-procurement ke platform cloud dan SaaS sebagian besar terlihat dalam bisnis skala kecil hingga menengah dan yang sebaliknya terjadi pada perusahaan besar dan entitas pemerintah, akan kita lihat dalam waktu dekat. Kebutuhan organisasi kecil dan menengah untuk mengadopsi solusi e-procurement akan berkembang ketika vendor dan pelanggan mereka yang lebih besar beralih ke sistem elektronik. Meskipun biaya untuk transisi ke e-procurement lebih banyak diserap oleh organisasi yang lebih kecil, platform berbasis cloud dan SaaS dapat membuktikan teknologi ini jauh lebih ekonomis dan mudah diimplementasikan daripada sistem on-site perusahaan. Fintech yang porosnya pada teknologi penyediaan barang dan cloud sebagai pedomannya, dapat menemukan peluang yang menguntungkan dan menawarkan solusi ekonomis di pasar yang sedang berkembang ini.

  •  Sistem In-house eProcurement untuk Perusahaan Besar

Sementara, teknologi e-procurement berbasis cloud dan (SaaS) menyediakan solusi ekonomi yang lebih terjangkau untuk perusahaan yang lebih kecil, perusahaan besar juga memiliki tren lain. Organisasi-organisasi besar pastinya tidak akan mau merugi dengan tidak mengaplikasikan platform e-procurement yang tidak tersedia.  Pelanggan dan vendor berharap perusahaan global memiliki sumber daya untuk mengembangkan platform khusus mereka sendiri. Lebih jauh, platform yang disesuaikan, dapat memberikan tingkat keamanan yang lebih besar daripada platform komersial, dengan asumsi teknologinya dirancang dengan baik.

Jelas saja, Microsoft tidak akan akan memberikan celahnya di teknologi e-procurement begitupun dengan perusahaan teknologi lainnya. Namun, banyak fintech inovatif yang menemukan banyak perusahaan non-teknologi yang mencari penyedia teknologi e-procurement.

  • Pengadopsian Platform eProcurement oleh Pemerintah

Pemerintah menghabiskan triliunan rupiah tiap tahun menemukan cara untuk membelanjakan dana itu dengan cara yang paling efisien dan paling bijaksana untuk kepentingan publik. Selain keunggulan yang ditawarkan kepada semua pengguna seperti peningkatan efisiensi, pengurangan kesalahan, peningkatan transparansi, dan pengurangan biaya operasi, e-procurement memberikan keuntungan lain yang membuatnya sangat menarik bagi entitas pemerintah. Di antaranya adalah peningkatan kepatuhan pajak, peningkatan kepercayaan pada pemerintah, dan pertumbuhan yang lebih besar di sektor publik sebagai hasil dari keuntungan lainnya.

Ketika berbagai platform muncul, Bank Dunia dan entitas lainnya bekerja untuk mengembangkan standar dan proses untuk sistem pengadaan elektronik pemerintah. Pengembang yang ingin menembus pasar global harus terus mengawasi upaya untuk membakukan teknologi e-procurement. Pasar yang lebih mudah didekati adalah pemerintah daerah yang lambat mengadopsi e-procurement. Alasannya adalah kekhawatiran ekonomi, dan keraguan transisi fungsi kritis (pengadaan) ke teknologi yang tidak dikenal. Fintech yang dapat menembus pasar yang sebagian besar belum dimanfaatkan ini dapat menumbuhkan basis pasar yang menguntungkan.

  • Big Data dan E-Procurement

Jika ada teknologi yang tampaknya memiliki jaringan di setiap pasar yang muncul, maka hal tersebut adalah big data atau data besar. Menggabungkan jaringan gigabit dengan penyimpanan data berbiaya rendah dan analitik data yang kuat, big data dapat memunculkan kembali teknologi lama dan yang sedang berkembang, salah satunya adalah e-procurement. Apa yang dapat dilakukan big data dengan e-procurement? Secara garis besar, big data dapat bermanfaat pada platform e-procurement sebagai berikut:

  • Mengidentifikasi vendor yang memenuhi syarat
  • Mengidentifikasi prospek yang kuat
  • Merespons dengan cepat untuk mengamankan harga terbaik secepat mungkin
  • Perkiraan permintaan berdasarkan pola historis
  • Mendapatkan dan mempertahankan penilaian yang akurat tentang kinerja pemasok
  • Mengidentifikasi risiko berbasis pasokan
  • Melakukan pembelian otomatis berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan

Big data cocok untuk berbagai aplikasi di pasar e-procurement. Dari e-Information ke e-invoicing, hampir setiap proses dalam platform e-procurement dapat bermanfaat bagi big data.

  • Blockchain adalah Buku Besar untuk eProcurement

Jika Anda terbiasa dengan Bitcoin, Anda mungkin menyadari teknologi blockchain. Sebagai penyegar, mari kita tinjau secara singkat cara kerja teknologi blockchain. Blockchain adalah catatan data, atau buku besar, yang dibagikan di antara banyak pihak. Data yang disimpan dapat berupa apa saja mulai dari harga pembelian, identitas vendor, riwayat penawaran, bahkan kontak.

Semua informasi yang disimpan dalam blockchain dienkripsi dan item data apa pun dapat dibuatkan token sehingga penggunaan yang tidak sah hampir tidak dimungkinkan. Teknologi blockchain dapat melakukan lebih banyak lagi.

Untuk informasi selengkapnya mengenai pengadaan barang dan jasa silahkan kunjungi Website https://eprocurement-indonesia.com/ atau bisa hubungi Helpdesk di +62811-3484-007 / +6231-591-75838.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published.